Selamat Datang di Halaman Blog Sekolah Dasar Negeri Lonthoir Kecamatan Banda Maluku Tengah - Maluku 2015 MARI KITA SUKSESKAN MTQ TINGKAT KABUPATEN MALUKU TENGAH DI BANDA NAIRA

Selasa, 10 Maret 2015




Menengok beberapa tahun ke belakang, wajah dunia pendidikan boleh dikatakan cukup terpuruk. Anggaran dana yang katanya sampai 20%, jelas-jelas tak terlalu dirasakan secara merata oleh para pelajar. Terlebih bagi mereka yang memiliki semangat tinggi untuk bersekolah tapi terbentur biaya yang mahal.

Berbagai opini pun bermunculan sebagai reaksi dari ketidaksesuaian penerapan program tersebut. Dan kebanyakan memberikan statement buruk berupa sindiran, “Ke mana anggaran yang 20% itu?”

Tapi akhirnya keresahan itu terjawab. Di tahun 2012, semua sekolah mulai dari SD, SMP, sampai SMA (khususnya di DKI Jakarta) yang tercakup dalam program wajib belajar 12 tahun benar-benar digratiskan secara total.

Cukup melegakan memang, namun nyatanya tak serta merta kita dapat mengatakan hal tersebut sebagai solusi jitu. Mengapa? Di sinilah kita sebagai masyarakat harus mencermati secara detil tiap keputusan yang diambil para pemimpin kita. Ada beberapa dampak kurang baik yang kemungkinan besar bisa terjadi akibat keputusan untuk menggratiskan semua sekolah.

Pertama, dari segi keseriusan belajar para siswa bisa jadi akan berkurang akibat menyepelekan gratisnya sekolah.

Pada saat sekolah mahal, beberapa lapisan memang mengeluhkan sulitnya memperoleh pendidikan yang layak. Namun sisi baiknya adalah, para pelajar yang memahami betapa berharganya pendidikan yang harus dibayar dengan banyaknya rupiah, secara sadar akan menghargai setiap ilmu pengetahuan yang didapatnya.

Berbeda dengan ketika kondisinya semua digratiskan. Akan ada banyak kalangan yang menganggap remeh pendidikan yang hakikatnya gratis adalah untuk memudahkan, tapi pada implementasinya lebih mengarah kepada memanjakan.

Kedua, “adil itu tak berarti sama”.

Jika dalam sebuah keluarga ada dua orang anak, anak pertama berusia 17 tahun dan anak kedua berusia 7 tahun, sang ayah justru akan disebut tidak adil ketika memberikan uang saku sama besarnya pada mereka berdua. Sebab, kebutuhan mereka berbeda.

Begitu pun dengan gratisnya semua sekolah. Rasanya tak adil jika sekolah-sekolah yang notabene adalah sekolah yang siswanya berasal dari anak-anak pengusaha kaya bahkan para pejabat pemerintahan, ikut digratiskan pula.

Efeknya akan berimbas pada kebutuhan internal sekolah itu sendiri, seperti gaji untuk para guru honor, perbaikan sekolah secara berkala, gaji penjaga sekolah, petugas keamanan sekolah, dan biaya-biaya tak terduga lain yang jumlahnya tak bisa dianggap kecil. Biaya subsidi yang ada dan diberikan pemerintah, rasanya tak cukup untuk menutupi semua kebutuhan tersebut.

Itulah sebabnya, beberapa pihak hari ini mempertanyakan program gratis belajar yang “dipukul rata” ini pada dasarnya ingin memajukan kualitas pendidikan atau hanya sekadar formalitas menjalankan janji politik?

Solusi terbaik yang pernah dilakukan pemerintah adalah “Subsidi Silang”. Pembebanan biaya tetap diberikan kepada siswa-siswa mampu, dan penggratisan diberikan kepada para siswa kurang mampu yang memiliki keinginan untuk belajar.

Kelemahan dalam penerapan program subsidi silang selama ini adalah tidak tepatnya sasaran subsidi tersebut. Masih lemahnya koordinasi dinas pendidikan menyentuh masyarakat menengah ke bawah, membuat program ini banyak yang jatuh ke tangan orang-orang yang sebenarnya bukan merupakan target utamanya.

Jika subsidi silang sudah dapat diterapkan dengan baik dan hasilnya telah memenuhi standar operasional yang ditentukan, maka sisa dari anggaran dana pendidikan bisa digunakan untuk pembangunan yang lebih besar seperti perbaikan akses jalan dan peningkatan kualitas pendidikan di daerah-daerah terpencil yang ada di negeri ini. Sederhananya, lebih baik sebagian dananya digunakan untuk memperbaiki jalan, membangun jembatan, dan mengadakan pelatihan khusus bagi pengajar di pelosok-pelosok ketimbang dana tersebut dikucurkan untuk menggratiskan sekolah anak-anak dari keluarga mampu. Sebab, saya yakin mereka pun takkan keberatan jika sekolah tetap berbayar.

Tentunya kita miris ketika ada tayangan di televisi, yang memberitakan ada banyak daerah di Indonesia yang jumlah sekolahnya sedikit dengan jarak yang cukup jauh dari permukiman siswanya. Puluhan kilometer harus ditempuh anak-anak itu dengan berjalan kaki.

Mereka kadang harus menerobos hutan, menyeberangi sungai hanya dengan dua utas tali besar yang dibentangkan dari satu sisi ke sisi lain sungai tersebut, seutas tali digunakan untuk pijakan, dan seutas lainnya untuk pegangan mereka. Kita mengenal alat semacam itu biasanya digunakan dalam permainan outbound. Tapi ini sama sekali bukan permainan, ini adalah realita dari anak-anak negeri yang menggantungkan masa depannya di atas perjuangan mereka mempertaruhkan nyawa.

Indonesia bukan hanya milik kota-kota besar. Daerah-daerah terpencil pun punya hak yang sama untuk mendapat perhatian dari pemerintah. Bahkan, bisa jadi di daerah-daerah tersebut justru banyak bibit-bibit baru manusia berkualitas yang amat disayangkan jika kualitas pendidikannya tidak didukung oleh kepedulian pemerintah.

Semoga ke depan, Indonesia akan benar-benar dapat menghilangkan noda hitam yang hari ini sudah terpampang jelas di pelupuk mata rakyatnya. Jika setiap individu mampu bertanggung jawab pada dirinya sendiri dan berusaha bermanfaat untuk orang lain, maka terciptanya Indonesia sejahtera bukan lagi hanya semboyan belaka, namun juga akan menjadi kenyataan manis yang meninggikan nilai negeri ini di mata dunia

Sabtu, 28 Februari 2015


TIK di sekolah Dasar

lab
Sekarang  di Indonesia TIK sudah diperkenalkan di semua jenjang pendidikan termasuk di sekolah dasar. Namun materi pembelajaran TIK di tingkat dasar  tidak seperti materi pembelajaran TIK di tingkat SMP atau SMA. Materi yang diajarkan di SD hanya sebatas pengenalan dasar- dasar TIK, yang salah satunya dasar- dasar pengenalan komputer.
Dari uraian kemampuan siswa tentang komputer,  kita dapat melihat kompetensi siswa di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi pada siswa Sekolah Dasar masih perlu dikembangkan, baik itu dilihat dari segi pemahaman materi maupun dari segi keterampilan praktek. Oleh karena itu siswa dituntut untuk mengenal komputer walaupun keberadaan komputer di Sekolah Dasar masih jarang terutama di sekolah- sekolah  yang berada di daerah pedesaan.
Dalam panduan materi TIK SD/MI kurikulum 2004, standar kelulusan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi yang diterapkan untuk siswa SD diantaranya  adalah :
  1. Siswa mampu menunjukan perangkat keras komputer. Materi ajarnya adalah Teknologi Informasi dan Komunikasi umum yang meliputi: perangkat input, perangkat proses, perangkat output, perangkat penyimpan.
  2. Siswa mampu menggunakan ikon untuk membuat , memilih, dan mewarnai gambar. Maka materi ajarnya yaitu nama dan fungsi ikon untuk menggambar, cara mewarnai gambar.
  3. Siswa mampu menunjukan perangkat lunak komputer. Bahan ajar yang disampaikan adalah pengenalan dasar tentang perangkat lunak dan macam macam perangkat lunak.
  4. Siswa dapat menunjukan ikon pengolah gambar, dan mendemonstrasikannya.
  5. Siswa dapat menunjukan perangkat lunak pengolah kata serta mendemonstrasikanya dengan kreatif. Disini siswa harus memahami nama, ciri ciri perangkat lunak pengolah kata, ikon ikon pengolah kata dan fungsinya.
  6. Siswa mampu menunjukan menu ikon standar pengolah kata
  7. Siswa mampu menunjukan ikon pendukung untuk merancang teks
  8. Siswa mampu mengoperasikan dasar-dasar micorsoft office
Jika dibandingkan dengan kompetensi kompetensi di atas, kompetensi siswa SD di lapangan masih minim apalagi siswa SD di daerah-daerah terpencil. Oleh karena itu terjadi perubahan pada kurikulum, yang berubah menjadi KTSP. Dimana sekolah bisa menentukan sendiri kurikulum komputer yang sesuai dengan potensi daerah tersebut. KTSP membuat Teknologi Informasi dan Komunikasi yang tadinya sebagai pelajaran intrakurikuler, sekarang disesuaikan dengan keadaan daerah. Bagi yang memiliki sarana dan prasarana yang memadai bisa menyelenggarakan pelajaran komputer.
Kompetensi siswa dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi akan berkembang jika:
  • Terdapat sarana dan prasarana yang menunjang proses pembelajaran, diantaranya laboratorium komputer, komputer, jaringan listrik,dll.
  • Terdapat tenaga pengajar yang professional dalam bidang TIK. Ini sangat penting karena dangan pengajar yang terlatih akan menghasilkan siswa yang kompeten.
Foktor foktor pendukung diatas, masih harus diprebaiki. Pemerintah harus memikirkan cara agar setiap sekolah mampu menerapkan pembelajaran TIK khususnya di tingkat sekolah dasar. Karena jika tidak, dunia pendidikan akan sulit bersaing dalam perkembangan zaman.
lab1
Seperti yang terjadi saat ini, masih banyak siswa sekolah dasar yang belum mengenal komputer sama sekali. Padahal pengenalan dasar tentang komputer adalah dasar-dasar dari pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi. Siswa siswa yang berada di daerah terpencil sulit berkompetensi di bidang TIK.
Namun dari sekian banyak siswa yang belum memahami TIK, ada juga siswa siswa SD yang memiliki kemampuan yang lebih. Misalnya siswa yang bersekolah di sekolah sekolah unggulan. Dengan fasilitas yang ada, mereka dapat melaksanakan pembelajaran TIK di sekolahnya dan dengan bimbingan guru yang professional di bidang TIK.
Contohnya seperti siswa siswi SD Islam Darunnajah yang termasuk sekolah unggulan ini kompetensi di bidang Tenologi Informasi dan Komunikasi sudah lebih unggul. Fasilitas di sekolah dasar tersebut sudah lengkap. Pembelajaran TIK di SD Islam Darunnajah dimulai sejak anak duduk dikelas rendah. Bahkan siswa kelas 6 sudah mendapatkan materi tentang internet, sehingga tugas-tugas TIK dapat dikerjakan di website sekolah dan juga soal dan tugas latihan dikirimkan ke email masing-masing siswa melalui malinglist. Dengan demikian tugas bisa dikerjakan dimana saja dan kapan saja sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
Mereka juga bisa memanfaatkan dan mengoptimalkan gadget mereka untuk mengerjakan tugas sekolah sehingga fungsi gadget bukan hanya untuk komunikasi dan hiburan semata tapi juga untuk pendidikan. Dengan demikian kemampuan TIK mereka bukan hanya teori saja tapi sudah langusng dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan untuk saat ini SD Islam Darunnajah sudah memanfaatkan TIK untuk proses belajar mengajarnya pada bebarapa mata pelajaran, sehingga proses belajar mengajar lebih inovatif dan menyenangkan yang pada akhirnya membuat siswa lebih bersemangat dalam mengikuti setiap pelajaran.